Lewati ke konten
Donget
Unduh
Semua artikel

Pasangan bagi tagihan 50/50 atau sesuai penghasilan? Cara memilih

Pasangan bagi tagihan 50/50? Cocok kalau penghasilan sepadan. Kalau tidak, pembagian proporsional atau campuran biasanya lebih adil. Lima pertanyaan untuk memilih.

The Donget team 7 menit baca

Salah satu dari kalian mengusulkan membagi semuanya dua sama rata, dan kedengarannya jelas adil. Beberapa bulan kemudian, yang satu diam-diam melewatkan makan di luar dan yang lain berhenti mengajak, dan tak seorang pun bilang kenapa.

Pertanyaan di baliknya sederhana: perlukah pasangan membagi tagihan 50/50, atau ada aturan yang lebih pas untuk kalian berdua? Bagi tagihan 50/50 kalau penghasilan dan kebiasaan belanja kalian berdekatan dan sama-sama ingin keuangan terpisah. Kalau satu penghasilan jelas lebih besar, pembagian rata menyisakan jauh lebih sedikit untuk yang lebih kecil, dan pembagian proporsional atau campuran biasanya lebih pas. Sepakati aturannya dulu.

Kapan 50/50 cocok

Pembagian rata adalah aturan paling mudah. Tak perlu ada yang tahu gaji pasangannya, setiap tagihan separuh-separuh, dan siapa pun bisa memeriksa hitungannya. Aturan ini pas untuk tiga keadaan.

Penghasilan kalian berdekatan. Kalau gaji bersih kalian kurang lebih sama, separuh sewa menghabiskan porsi gaji yang kurang lebih sama bagi masing-masing. Jumlah yang sama berarti beban yang sama.

Hubungannya masih baru, atau hidup kalian sebagian besar terpisah. Di awal, banyak pasangan memilih tidak membuka slip gaji satu sama lain. Membagi 50/50 menjaga keuangan tetap pribadi sambil tetap membagi biaya bersama dengan adil.

Kebiasaan belanja kalian sama. Kalau kalian sama-sama ingin tempat tinggal yang sejenis, belanja dapur yang sama, dan liburan yang sama, tak ada yang membayari selera pasangannya.

Kapan 50/50 diam-diam tak lagi cocok

Masalah muncul ketika selisih penghasilan dan kebiasaan belanja tak lagi sejalan. Jumlah yang sama bukan beban yang sama kalau penghasilan yang satu satu setengah kali yang lain. Ada dua cara hal ini keliru, dan pasangan sering hanya menyadari satu.

Yang berpenghasilan lebih besar menentukan gaya hidup. Tempat tinggal, restoran, dan liburan akhir pekan dipilih pada tingkat yang mudah dijangkau satu orang. Yang lain membayar separuh tiap tagihan dan kekurangan setiap bulan.

Yang berpenghasilan lebih kecil menentukan gaya hidup. Kebalikannya lebih senyap. Supaya separuh tiap tagihan tetap terjangkau, pasangan menjalani gaya hidup seukuran penghasilan yang lebih kecil, dan yang berpenghasilan lebih besar membayar sendiri apa pun di atas itu. Tak ada yang salah, tetapi ini bukan hidup yang akan dipilih salah satu dari kalian.

Dalam kedua kasus, anggaran bersama ditentukan oleh penghasilan satu orang. Kebanyakan keuangan pasangan yang dibagi 50/50 berjalan baik-baik saja. Masalahnya mulai di celah antara jumlah yang sama dan sisa uang yang tidak sama.

Proporsional vs 50/50: bulan yang sama, dihitung

Bayu membawa pulang Rp 18.000.000 sebulan dan Rina Rp 12.000.000. Bersama, mereka berpenghasilan Rp 30.000.000, jadi Bayu menyumbang 60% dan Rina 40%. Biaya bersama mereka (sewa, tagihan, belanja dapur, dan makan di luar berdua) mencapai Rp 10.000.000 sebulan.

50/50Proporsional (60/40)
Bayu membayarRp 5.000.000Rp 6.000.000
Rina membayarRp 5.000.000Rp 4.000.000
Sisa BayuRp 13.000.000Rp 12.000.000
Sisa RinaRp 7.000.000Rp 8.000.000
Porsi gaji untuk biaya bersamaBayu 27,8%, Rina 41,7%keduanya 33,3%

Dengan 50/50, Rina melepas lebih dari dua perlima gajinya dan Bayu hanya lebih dari seperempat, dan Bayu mengakhiri bulan dengan Rp 6.000.000 lebih banyak daripada Rina. Dengan pembagian proporsional, keduanya mengeluarkan sepertiga gaji yang sama. Bayu membayar Rp 1.000.000 lebih banyak, Rina Rp 1.000.000 lebih sedikit, dan selisih sisa uang menyempit menjadi Rp 4.000.000. Tak ada yang menyubsidi yang lain. Mereka menyumbang pecahan yang sama.

Pasangan bagi tagihan 50/50: dengan sumbangan sama rata, batang sisa uang berjauhan; dengan sumbangan proporsional, batangnya lebih dekat

Metode lengkapnya, termasuk versi yang lebih dulu mengurangi biaya wajib masing-masing, ada di cara membagi tagihan saat penghasilan berbeda.

Tiga alternatif selain 50/50

Proporsional menurut penghasilan. Tiap orang membayar porsinya dari gaji bersih gabungan, seperti di tabel. Ini yang paling merata bebannya, dan artinya kalian saling membuka angka penghasilan.

Campuran: satu aturan untuk kebutuhan pokok, aturan lain untuk tambahan. Bagi kebutuhan pokok (sewa, listrik, belanja dapur) 50/50 dan tambahannya menurut penghasilan: makan di luar, liburan, pilihan yang lebih bagus saat kalian meningkatkan sesuatu. Ini cocok untuk pasangan yang kebutuhan pokoknya terjangkau dari penghasilan mana pun dan biayanya baru berbeda di bagian tambahan. Kalau Rp 10.000.000 milik Bayu dan Rina terdiri dari Rp 7.500.000 kebutuhan pokok dan Rp 2.500.000 tambahan, Bayu membayar Rp 3.750.000 + Rp 1.500.000 = Rp 5.250.000 dan Rina Rp 3.750.000 + Rp 1.000.000 = Rp 4.750.000. Pasangan lain menjalankannya terbalik, membagi biaya tetap menurut penghasilan dan yang senang-senang sama rata. Keduanya sah, asal kalian sepakat suatu biaya masuk keranjang yang mana.

Masing-masing menanggung kategori utuh. Bayu membayar sewa (Rp 6.000.000); Rina membayar tagihan, belanja dapur, dan makan di luar (Rp 4.000.000 pada bulan biasa). Hasilnya tepat 60/40, tanpa transfer. Jebakannya melenceng: kalau belanja dapur sebulan lebih tinggi Rp 500.000, sisi Rina menjadi Rp 4.500.000 dan pembagiannya 57/43. Periksa beberapa bulan sekali.

Lima cara membagi pengeluaran memuat opsi lainnya kalau kalian butuh pembagian berbeda untuk satu biaya tertentu.

Perlukah pasangan bagi tagihan 50/50? Lima pertanyaan untuk memutuskan

  1. Apakah gaji bersih salah satu jelas lebih tinggi? Kalau tidak, 50/50 biasanya baik-baik saja.
  2. Siapa yang memilih biaya bersama? Kalau biayanya ditetapkan pada tingkat kenyamanan satu orang, yang lain butuh pembagian yang sesuai porsinya.
  3. Apakah kalian sama-sama nyaman membuka angka penghasilan? Kalau tidak, pola campuran atau per kategori jalan tanpa ada yang melihat slip gaji.
  4. Apakah kebutuhan pokok dan tambahan kalian berperilaku berbeda? Kalau kebutuhan pokok terjangkau bagi keduanya dan hanya tambahan yang melebar, pakai pola campuran.
  5. Adakah yang akan menyesalkan aturan yang satunya? Pembagian yang diterima salah satu dengan berat hati cenderung gagal dalam beberapa bulan. Pilih aturan yang bisa kalian jelaskan berdua tanpa terdengar membela diri.

Kalau kalian buntu di pertanyaan kedua, itu sering tanda bahwa salah satu dari kalian selama ini membayar semuanya tanpa ada yang memutuskannya. Kalau kalian akan tinggal serumah untuk pertama kali, tinggal bersama dan cara membagi pengeluarannya membahas uang jaminan dan pembelian besar pertama.

Di mana Donget masuk

Apa pun aturan yang kalian pilih, susahnya adalah tagihan tak pernah datang bersamaan atau dari kartu yang sama. Di grup Donget untuk kalian berdua, setiap biaya dimasukkan lewat Tambah pengeluaran dengan Dibayar oleh diisi orang yang membayar. Pilih Rata untuk biaya 50/50 atau Persentase untuk 60 dan 40. Pengali dengan 3 dan 2 menghasilkan pembagian 60/40 yang sama. Pola campuran tinggal berupa pengaturan pembagian yang berbeda di pengeluaran yang berbeda.

Misalkan dalam sebulan Bayu membayar sewa (Rp 6.000.000) dan tagihan rutin (Rp 1.500.000), sedangkan Rina membayar belanja dapur (Rp 1.750.000) dan makan di luar (Rp 750.000). Dibagi 60/40, tab Saldo menunjukkan Bayu unggul Rp 1.500.000. Dibagi 50/50, angkanya Rp 2.500.000. Lunasi mengubahnya menjadi satu transfer dari Rina ke Bayu, dan Dibayar mencatatnya. Aplikasinya tidak memindahkan uang. Ia menyimpan catatan yang bisa kalian lihat berdua. Panduan yang lebih luas tentang membagi pengeluaran untuk pasangan membahas cara melunasi dengan ritme teratur.

Pertanyaan yang sering diajukan

Perlukah pasangan membagi tagihan 50/50?

Kalau penghasilan berdekatan, kebiasaan mirip, dan kalian ingin keuangan terpisah, ya. Dengan selisih penghasilan yang jelas, pembagian rata menyisakan jauh lebih sedikit bagi yang lebih kecil, dan pembagian proporsional atau campuran biasanya terasa lebih adil.

Apa bedanya pembagian proporsional dengan 50/50?

50/50 memecah tiap tagihan jadi dua jumlah sama. Proporsional memecahnya menurut porsi penghasilan gabungan: Rp 18.000.000 dan Rp 12.000.000 menghasilkan 60% dan 40%, sehingga masing-masing menyumbang pecahan yang sama dari gajinya.

Apakah 50/50 adil dalam hubungan kalau salah satu berpenghasilan lebih besar?

Sama rata, tetapi belum tentu adil. Jumlah yang sama adalah bagian kecil dari satu penghasilan dan bagian besar dari yang lain, dan selisih sisa uang masing-masing membesar.

Bolehkah 50/50 untuk sebagian tagihan dan proporsional untuk yang lain?

Boleh. Pola campuran yang umum membagi kebutuhan pokok sama rata dan tambahannya menurut penghasilan, atau sebaliknya. Sepakati aturan mana berlaku untuk biaya apa sebelum tagihannya datang.

Bagaimana kalau kami masing-masing menanggung tagihan yang berbeda?

Sederhana dan cocok kalau totalnya kira-kira sesuai yang kalian mau. Tagihan yang berubah-ubah bisa melenceng, jadi periksa rasionya beberapa bulan sekali.

Seberapa sering pasangan perlu meninjau ulang cara membagi tagihan?

Saat penghasilan, sewa, atau kondisi tempat tinggal berubah, dan selebihnya sekitar setahun sekali.

Intinya

Pembagian 50/50 tepat kalau artinya beban yang sama bagi kalian berdua, yaitu ketika penghasilan dan kebiasaan belanja kalian berdekatan. Kalau tidak, bagi menurut penghasilan, pakai pola campuran, atau bagi per kategori. Bagaimanapun cara kalian membagi tagihan dengan pasangan, pilih aturannya bersama-sama, tuliskan, dan tinjau saat keadaan berubah.

Unduh Donget gratis dan simpan biaya bersama kalian dalam satu daftar, tempat pembagian yang kalian sepakati diterapkan pada setiap tagihan.

Lunas dalam hitungan detik. Berteman bertahun-tahun.

Gabung dengan grup yang sudah pensiun dari spreadsheet. Unduh Donget gratis.